Lagu "Rasa Sayang" mengekalkan image orang Indon sebagai bangsa yg sempurna kedogolannya. Di Indonesia, the lagu dikenal sebagai lagu "Rasa Sayange", kemungkinan besar karena dominasi etnik Jawa yg penuh salah kaprah dari dulu sampai sekarang.
Bait lagunya sendiri berbunyi: "Rasa sayang e, rasa sayang sayang e..."
Bukan "Rasa sayange..." seperti dinyanyikan oleh orang Indon, melainkan "Rasa sayang e..." seperti dinyanyikan orang Malaysia.
Menurut saya asalnya dari Melaka, dan pertama-kali dipopulerkan oleh komunitas Baba Nyonya atau Peranakan Cina. Ingat bait lagu itu:
"Rasa sayang e, rasa sayang sayang e, e lihat nona jauh rasa sayang sayang e...."
"Rasa sayang e, rasa sayang sayang e, e lihat nona jauh rasa sayang sayang e...."
For your info, kata "nona" saat itu cuma digunakan untuk menyebut gadis keturunan Eropa atau Cina saja. Nona tidak bisa digunakan untuk menyebut orang Melayu. Orang Ambon dan Manado belakangan menggunakan kata "nona" juga, tetapi itu karena mereka kebelanda-belandaan. Orang Jawa haram jadah untuk disebut "nona". Jangan dogolz!
Perempuan Melayu juga haram disebut "nona" walaupun mereka juga pakai busana hasil modifikasi dari pakaian perempuan Peranakan. Busana tradisional perempuan Melayu di Malaysia namanya Baju Kurung. Asalnya dari busana perempuan Peranakan Cina juga. Baju Kurung is none other than kebaya panjang perempuan Peranakan, tapi sudah disederhanakan. Bisa langsung dipakai tanpa dikancing. The particular busana juga menyebar di kepulauan Nusantara. Ada baju kurung yg model pendek juga, seperti sering dipakai oleh perempuan Maluku di masa lalu.
The term "Peranakan" tentu saja cuma semacam istilah resmi. Di kalangan sendiri, orang-orang Peranakan tidak ragu-ragu untuk menyebut langsung, misalnya menyebut: "Cina Jawa". The term "Cina Jawa" saya pungut di Jakarta. Cina Betawi bilang itu Cina Jawa, bukan SARA tetapi memang cara ngomongnya begitu. Cara bicara Cina Betawi is even very kasar kalau dibandingkan Cina Jawa. Saya jadi ingat nenek saya dan keluarganya yg ngomong Gua Lu sama semua orang. Kedengaran kasar, tetapi itu penggunaan kosa kata asli di komunitas mereka. Gua dan Lu artinya saya dan anda, bahasa Hokkian. Cuma itu saja bahasa Hokkian yg dipakai komunitas Peranakan di Jakarta, sisanya bahasa Indonesia biasa saja. Komunitas Peranakan lainnya pakai bahasa daerah di wilayah mereka masing-masing.
Saya pernah satu bis dari Denpasar sampai Jakarta bersama-sama dengan satu rombongan Cina Bali. Ampun ngomongnya, gak ngerti. Bahasa Bali asli. Pedahal, dari selentingan obrolan mereka saya tangkap bahwa mereka ke Jakarta dalam rangka ikut acara kepemudaan WALUBI (Perwalian Umat Buddha Indonesia). Yg paling parah memang Cina Betawi, gak punya bahasa daerah. Dari lahir sudah bicara bahasa Indonesia.
Saya pernah masuk ke Pura di Kintamani dimana ada paviliun Putri Cina. And, for your info, the Cina Bali menyebut Toapekong or berhala yg dihormati disitu dan pura-pura lainnya sebagai "Kongco". Kongco biologis adalah kakek buyut, tetapi di Bali rupanya digunakan untuk menyebut Toapekong. Toapekong itu istilah yg digunakan di Jawa. Di Bali disebut Kongco (atau Konco). Maksudnya, figur yg dihormati di dalam kelenteng itu. Toapekong ada bermacam-macam, di Karawang ada Kelenteng Mak Ku Po. Toapekong-nya, Mak Ku Po (artinya Nenek Ku Po). Kurang lebih seperti itu. Itu agama Tao, bukan Buddha. Di Bali bahkan banyak kelenteng yg letaknya di dalam Pura.
My own native background is Jakarta. Bahasa Betawi tidak mengenal akhiran "lah".
Yg ada kata "dong", misalnya "Kemari dong". Dalam bahasa Indonesia, ucapannya "Kemarilah".
Ada juga kata "deh" di bahasa Betawi. Misalnya "Udah deh". Di bahasa Indonesia, ucapannya "Sudahlah".
Untuk anda yg belum tahu, akhiran "lah" itu asalnya dari Komunitas Peranakan Cina. Itu bahasa sehari- hari orang peranakan untuk pakai akhiran "lah". Akhirnya masuk ke bahasa Melayu (Indonesia).
Untuk anda yg belum tahu, akhiran "lah" itu asalnya dari Komunitas Peranakan Cina. Itu bahasa sehari- hari orang peranakan untuk pakai akhiran "lah". Akhirnya masuk ke bahasa Melayu (Indonesia).
And that's the reason I can understand Singlish (Singaporean English). They speak English with many akhiran "lah". They may say: "You come here lah." Atau, "You don't understand lah". Bukan mereka pakai bahasa Melayu, melainkan bahasa Inggris dengan aksen Peranakan Cina. The akhiran "lah" dipakai terus. Dan itu sama persis dengan akhiran "lah" di bahasa Indonesia. Kita punya bahasa ini memang hibrida. Campuran dari mana-mana, termasuk penggunaannya. Kita bahkan tidak sadar sudah pake dia olang punya gaya. Pakai akhiran "lah" yg kita bilang penghalusan.
Pedahal tidak begitu lah. It's very common lah. Very common for Chinese people lah. Very common to use the ending lah. I don't like speaking bullshit lah. What I write is true lah. Whether people acknowledge it or not, I know it lah. I know the ending "lah" came from Chinese usage lah. Chinese everywhere use that ending very often lah. Very common for Chinese lah. And it's nice to say it lah. Which may result by its adoption by the Malays lah.
All those with endings "lah" are Chinese-influenced, kamprettt...
Cuma sebegini sajalah. Kesini jugalah. Tidak tahulah. Mana buktinyalah. Mahal sekalilah. Dan banyak lagilah. Tidak terhitunglah. Semuanya pengaruh cara ngomong Peranakan Cinalah.
Cuma sebegini sajalah. Kesini jugalah. Tidak tahulah. Mana buktinyalah. Mahal sekalilah. Dan banyak lagilah. Tidak terhitunglah. Semuanya pengaruh cara ngomong Peranakan Cinalah.
Orang Indon mungkin cuma tahu yg haiiyyaa haiiyyaa... Pedahal itu tidak umumlah. Yg umum adalah akhiran lah itulah. Hampir semuanya pakai akhiran lah. Masuk ke bahasa kita which is very baguslah. Very good lah.
Ladangnya masih luas sekali bagi para linguists yg mau meneliti berapa banyak kata-kata Hokkian yg masuk ke bahasa Melayu (Indonesia). Saya lihat, bahkan kata-kata "Pak" dan "Bu" berasal dari bahasa Hokkian. "Pe Bu" artinya orang-tua lelaki dan orang-tua perempuan. Dan itu menjadi "Bapak Ibu" di bahasa Indonesia. Lewat bahasa Melayu dulu, tentu saja, walaupun di Malaysia menggunakan kata "Bapak" untuk menyebut orang tua lelaki tetap dianggap kasar sampai sekarang, mungkin karena mereka tahu asalnya dari bahasa apa. Kata "Ibu" dipakai juga di Malaysia, kemungkinan karena tidak ada istilah yg lebih asli.
Lucunya, orang Indon dari dulu segan untuk menggunakan kata "Ibu" untuk menyebut perempuan Peranakan. Kata "Bapak" juga. Untuk orang Peranakan digunakan sebutan "Nyonya" dan "Tuan". Pedahal, kata-kata "Bapak" dan "Ibu" asal-usulnya juga dari bahasa Hokkian. Kata-kata "Tuan" dan "Nyonya" juga. Tetapi istilah "Bapak Ibu" lebih dahulu diserap, dan terlupakan asal-usulnya, sehingga dianggap asli sudah ada dari sononya.
Istilah "Pak" jelas dari bahasa Hokkian. Itu juga masuk ke bahasa Jawa, bahkan sudah komplit sehingga ada "Pak De" dan "Pak Lik".
For your info, istilah "Lao Pek" digunakan untuk menyebut orang tua laki-laki di bahasa Hokkian. Pasangannya "Lao Bu". Kalau disingkat, jadinya "Pek" dan "Bu" saja. Atau "Pak" dan "Bu" kalau di bahasa Melayu. Di bahasa Jawa, menjadi "Pak" dan "Bok". Yg terakhir itu sering diucapkan sebagai "Mbok". Jaman sekarang memanggil ibu sendiri sebagai "Mbok" dianggap kuno, sehingga digunakan istilah "Bu". Pedahal kata "Mbok" dan "Bu" asalnya sama, yaitu dari istilah Hokkian untuk menyebut orang tua perempuan, yaitu "Bu". Kalo lu orang gak ngerti jangan salahin gua!
For your info, istilah "Lao Pek" digunakan untuk menyebut orang tua laki-laki di bahasa Hokkian. Pasangannya "Lao Bu". Kalau disingkat, jadinya "Pek" dan "Bu" saja. Atau "Pak" dan "Bu" kalau di bahasa Melayu. Di bahasa Jawa, menjadi "Pak" dan "Bok". Yg terakhir itu sering diucapkan sebagai "Mbok". Jaman sekarang memanggil ibu sendiri sebagai "Mbok" dianggap kuno, sehingga digunakan istilah "Bu". Pedahal kata "Mbok" dan "Bu" asalnya sama, yaitu dari istilah Hokkian untuk menyebut orang tua perempuan, yaitu "Bu". Kalo lu orang gak ngerti jangan salahin gua!
+++
0 Komentar
Berkomentarlah secara bijak dan bertanggung jawab sesuai yang diatur dalam Undang Undang ITE.